Apa itu Sita Jaminan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (“KBBI Daring”), penyitaan berarti proses, cara, perbuatan menyita. Masih bersumber pada KBBI Daring, istilah sita sendiri diartikan sebagai perihal mengambil dan menahan barang menurut keputusan pengadilan oleh alat negara (polisi dan sebagainya) . Kemudian M. Yahya Harahap dalam buku Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan (hal. 282), menerangkan bahwa penyitaan berasal dari terminologi beslag (bahasa Belanda) dan istilah bahasa Indonesia, beslah, yang istilah bakunya adalah sita atau penyitaan.

Sita jaminan atau Conservatoir Beslaag adalah sita terhadap barang-barang milik tergugat yang disengketakan status kepemilikannya. Sita ini merupakan salah satu upaya paksa terhadap barang milik tergugat yang menjadi jaminan. ” Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan untuk perikatan-perikatan perorangan debitur Itu”.

Situ jaminan dapat diajukan oleh penggugat kepada ketua pengadilan negeri untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan perdata dengan menguangkan atau menjual barang yang disita tersebut untuk memenuhi tuntutan penggugat. Tujuan sita jaminan adalah agar barang tersebut tidak digelapkan atau diasingkan selama proses persidangan berlangsung, sehingga nantinya putusan dapat dilaksanakan.

Sita jaminan ini diatur dalam pasal 227 HIR , ” Jika ada persangkaan yang beralasan , bahwa seorang yang berhutang ,selagi belum dijatuhkan keputusan atasnya atau selagi putusan yang mengalahkannya belum dapat dijalankan, mencari akal akan mengfekapkan atau membawa barangnya baik yang tidak tetap maupun yang tetap dengan maksud akan menjauhkan barang itu dari penagih hutang. Maka atas surat permintaan orang yang berkepentingan ketua pengadilan negeri dapat memberi perintah, supaya disita barang itu untuk menjaga hak orang yang memasukkan permintaan itu, dan kepada peminta harus diberitahukan akan menghadap persidangan, pengadilan negeri yang pertama sesudah itu untuk memajukan dan menguatkan gugatannya. Bila Sita jaminan dikabulkan oleh hakim ,hak tergugat atas benda yang menjadi jaminan tersebut menjadi hilang sementara dan memaksa pemilik benda untuk melaksanakan kewajiban kewajiban tertentu.

Kenali 4 Jenis Norma Sosial Dalam Masyarakat

Manusia disebut juga sebagai makhluk sosial sekaligus individu. Dikatakan sebagai makhluk sosial karena manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga cenderung hidup berkelompok. Manusia juga merupakan makhluk individu, mengingat setiap orang memiliki perbedaan kepentingan yang umum maupun pribadi, sehingga perbedaan tersebut akan menimbulkan konflik. Untuk itu, guna menciptakan hubungan yang romantis (rukun) antar manusia dibutuhkan norma sosial untuk menaunginya.

norma

Bisa diartikan sebagai petunjuk atau pedoman tingkah laku yang harus dilakukan ataupun tidak boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, berdasarkan suatu alasan tertentu. Secara etimologis, berasal dari bahasa Latin yaitu norm-a-ae yang berarti pola, pedoman, standar, ukuran, aturan, dan kebiasaan. Sementara itu, di dalam bahasa Belanda yaitu “norm” memiliki arti patokan, pedoman, kaidah, atau pokok.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat. Di mana sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai. Norma biasanya berlaku dalam lingkungan masyarakat dengan aturan tak tertulis, tetapi secara sadar masyarakat mematuhinya.

Macam-macam Norma :

  1. Norma Keagamaan
    adalah peraturan atau kaidah yang sumbernya dari firman atau perintah tuhan melalui Nabi /Utusannya. Bagi orang yang beragama , perintah atau firman tuhan itu menjadi  petunjuk atau pedoman didalam sikap dan perbuatannya (war of life ). Kaidah agama tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya tetapi juga mengatur hubungan di antara sesama manusia. Bagi mereka yang melanggar norma agama akan mendapatkan sanksi yang berupa kemurkaan tuhan atau siksaan neraka.
  2. Norma Kesusilaan
    adalah kaidah yang bersumber pada suara bisikan hati atau insan kamil manusia. Kaidah itu ber bisikan suara batin yang diakui dan diinsyafi oleh setiap orang dan menjadi dorongan atau pedoman dalam perbuatan dan sikapnya. Bagi mereka yang melanggar akan mendapatkan sanksi yang bersifat otonom yang datangnya dari diri orang itu sendiri berupa penyesalan, Siksaan batin atau sejenisnya
  3.  Norma Kesopanan atau tatakrama
    adalah peraturan yang timbul dalam pergaulan hidup segolongan manusia. kaidah-kaidah ini di ikuti dan ditaati sebagai pedoman dalam tingkah laku sesama orang yang ada di sekelilingnya. Apabila seseorang melanggar akan mendapatkan sanksi dari masyarakat yang berupa cemoohan,celaan, tertawaan, diasingkan dari pergaulan hidup dan sejenisnya.
  4. Norma Hukum
    adalah peraturan yang dibuat oleh negara dan berlakunya dipertahankan oleh alat-alat negara seperti polisi,jaka,hakim dan sebagainya. Ciri khasnya adalah memaksa. Sanksi terhadap orang yang melanggar norma hukum bersifat heteronom yang berasal dari luar. yakni pemerintah lewat aparatnya.

Apa Sebenarnya Hoaks itu ?

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong”. Hoax Merupakan informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis) yang disampaikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Fake news

Soal ini telah dipertanyakan jurnalis AS, Curtis D.MacDougall pada 1958. Dalam bukunya, ia menyebut hoaks sudah menjadi bahan pembicaraan dan dipelajari  sejak abad ke-17. Sepanjang sejarah, hoaks pernah muncul di dunia sains,agama,mitos,humor hingga cerita legenda. Singkatnya , MacDougall menyebut hoaks sebagai ” ketidakbenaran yang sengaja dibuat-buat untuk disamarkan sebagai kebenaran”

Di indonesia kata Hoaks sering disamakan begitu saja dengan “kabar bohong”, “fitnah” , dan “kabar palsu”. Namunm hal ini tidak sepenuhnya tepat. Mengacu pada filolog  inggris Robert Nares, Etimologi hoax berasal dari kata latin hocus yang berarti to cheat atau menipu. Sementara, kata hocus ditemukan pada mantra penyihir abad pertengahan, hocus focus . Nares mengungkap itu dengan merujuk buku risalah dari Thomas Ady pada 1656 tentang  sifat penyihir dan sihir. Para pesulap  kemudian hari menggunakan frasa yang sama ketika memulai trik dalam pertunjukkan. fungsinya tak lain untuk menyajikan hiburan lewat tipuan.

 

Hoaks, Kabar Palsu dan Disinformasi

Kabar palsu (fake news ) mulai ramai dibicarakan setelah pemilihan presiden AS pada 2016. Saat itu, kabar palsu yang muncul di facebook lebih banyak menarik perhatian orang daripada berita media arus utama dan berdampak dalam arus politik pemilihan. Informasi dari kabar palsu yang beredar itulah yang lantas di fabrikasi secara sistematis menjadi disinformasi. Informasi tipe ini memang sengaja direkayasa sejak awal dan disebarkan secara sistematis untuk tujuan tertentu.  Jika merujuk pada nares, konteks informasinya memang bohong, tapi dalam maksud kelakar. Sementara, kabar palsu dalam konteks disinformasi sifatnya bukan hanya sengaja tapi juga merugikan orang atau kelompok tertentu. Dan perlu diketahui juga pelaku penyebar disinformasi itu cukup luas, mulai dari penipu (scammer) selebritas bahkan politisi. Sebuah studi dari oxford internet institute (2019) menemukan fakta bahwa beberapa pemerintahan di dunia  turut punya andil dan menjadi pemain utama dalam penyebaran disinformasi global.

Tips untuk terhindar dari disinformasi:

  1. Periksa sumbernya
  2. periksa penulis dan latar belakangnya
  3. periksa isinya, Apakah berimbang atau hanya dari satu sisi saja.
  4. Periksa gambar dari video
  5. Lihat bagaimana cerita dari informasi itu mempengaruhi perasaan.
  6. Jika negatif, perlu berhati-hati dan cek kembali
  7. Laporkan dan pertimbangan untuk tidak membaginya lagi

 

Bagi penyebar hoax, dapat diancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE (UU ITE) yang menyatakan “Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik yang Dapat di hukum pidana berdasarkan Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.