Beranjak dari hal tersebut, pemahaman tentang Society 5.0 perlu di pertajam khususnya generasi muda dan juga lembaga Negara. Pasalnya, bagaimana bisa mencapai tujuan dari Society 5.0 tanpa memahami konsep perubahan itu sendiri. Minimnya pemahaman serta perencanaan dari pihak lembaga Negara akan berimbas pada hilangnya titik tuju pada pembangunan yang mengakibatkan Agen of Change menjadi kaku dalam memainkan peran.
Sesuai dengan 17 macam tujuan dari SDGs, komponen utama Society 5.0 adalah manusia yang mampu menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi yang dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi di kemudian hari. Hal ini mengharuskan generasi muda meningkatkan kemampuan Digital Skill. Dalam konteks ini, tenaga didik berperan penting merakit kualitas generasi muda. Tenaga didik berperan sebagai fasilitator, tutor, penginspirasi yang memotivasi peserta didik. Karena itu, diperlukan pendidikan mengenai kecakapan hidup abad 21 atau lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thingking,Communication,Colaboration).
Di Society 5.0 yang akan dihadapi nanti, anak muda tidak hanya membutuhkan literasi dasar namun juga kompetensi lain seperti mampu berfikir kritis, bernalar, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan memiliki kemampuan problem solving. Serta memiliki karakter yang mencerminkan pancasila yaitu rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, mudah beradaptasi memiliki jiwa kepemimpinan, serta kepedulian sosial dan budaya.
Dari pemerintah juga harus bisa menyingkronkan antara pendidikan dan industri agar nantinya lulusan dari perguruan tinggi maupun sekolah dapat bekerja sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh industri sehingga nantinya dapat menekan angka pengangguran.
Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti),Muhammad Nasir,menerangkan ada 4 elemen yang harus menjadi perhatian untuk menghasilkan lulusan berkualitas dan kompeten.
Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi saat ini. Setiap mahasiswa yang memiliki bakat atau kemampuan harus diadakan pendekatan teknologi informasi.
Kedua, pemanfaatan Internet of Things (IoT) pada dunia pendidikan,dengan adanya IoT dapat membantu komunikasi.
Ketiga, pemanfaatan virtual/augmented reality, yang dapat membantu dalam memahami teori-teori yang membutuhkan simulasi tertentu sesuai dengan kondisi.
Keempat, pemanfaatan Artificial Intelligence(AI) untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan .Proses identifikasi akan lebih cepat dengan teknologi mechine learning yang tertanam artificial intelligence.
Artikel Terkait :
