Apakah memanggil Hakim harus dengan sebutan YANG MULIA ?

Tidak dapat ditemukan dasar hukum berupa pertauran perundang-undangan yang mewajibkan seorang saksi, tersangka ,jaksa, pengacara ataupun pengunjung sidang untuk memanggil hakim dengan sebutan ” Yang Mulia ” dalam persidangan. Namun , dalam peraturan mahkamah konstitusi No. 19 Tahun 2009 tentang Tata tertib persidangan ( “PMK 19/2009”) diatur mengenai kewajiban para pihak, saksi ,ahli dan pengunjung sidang untuk menghormati hakim.

Berdasarkan Pasal 1 angka 5 UU NO.48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman
Hakim adalah hakim pada mahkamah agung dan hakim pada badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum,lingkungan peradilan agama,lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut.

Kewajiban tersebut diatur dalam Pasal 6 PMK 19/2009 yang menyatakan :

  1. Para pihak, saksi, ahli dan pengunjung sidang wajib :
    a. Menempati tempat duduk yang telah disediakan serta duduk tertib dan sopan selama persidangan .
    b. Menunjukkan sikap hormat kepada Majelis Hakim dengan sikap berdiri ketika Majelis Hakim memasuki dan meninggalkan ruangan sidang.
    c. Memberi hormat kepada Majelis Hakim dengan membungkukkan badan setiap memasuki dan meninggalkan ruang persidangan.
  2. Dalam hal para pihak, saksi , dan ahli  akan menyampaikan pendapat dan/atau tanggapannya, terlebih dahulu harus meminta dan/atau mendapat izin ketua sidang.
  3. Para pihak, saksi dan ahli menyampaikan keterangannya setelah diberikan kesempatan oleh ketua sidang.
  4. Para pihak, saksi dan ahli menyerahkan alat bukti atau berkas perkara lainnya dalam persidangan kepada Majelis Hakim melalui panitra pengganti atau petugas persidangan yang ditugaskan untuk itu .

Pengaturan tersebut pada dasarnya tidak mengharuskan seseorang yang menghadiri persidangan untuk menyebut hakim dengan sebutan “yang mulia”. Tapi, setiap orang yang menghadiri persidangan termasuk pemohon, termohon atau kuasa hukumnya, saksi ahli, dan pengunjung sidang harus menunjukkan rasa hormat kepada Majelis Hakim Konstitusi. Jadi penyebutan sebytan Hakim “Yang Mulia” ini hanyalah sebagai suatu cara untuk menunjukkan sikap hormat tersebut.

Disamping itu, dari penelurusan hukum online, meskpun bukan berbentuk peraturan perundang-undangan, sejumlah pengadulan di indonesia melalui laman resmi mereka memeang mengharuskan semua orang yang memasuki gedung pengadilan untuk memanggil seorang hakim dengan sebutan “yang mulia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *