Apa Sebenarnya Hoaks itu ?

Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong”. Hoax Merupakan informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis) yang disampaikan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Fake news

Soal ini telah dipertanyakan jurnalis AS, Curtis D.MacDougall pada 1958. Dalam bukunya, ia menyebut hoaks sudah menjadi bahan pembicaraan dan dipelajari  sejak abad ke-17. Sepanjang sejarah, hoaks pernah muncul di dunia sains,agama,mitos,humor hingga cerita legenda. Singkatnya , MacDougall menyebut hoaks sebagai ” ketidakbenaran yang sengaja dibuat-buat untuk disamarkan sebagai kebenaran”

Di indonesia kata Hoaks sering disamakan begitu saja dengan “kabar bohong”, “fitnah” , dan “kabar palsu”. Namunm hal ini tidak sepenuhnya tepat. Mengacu pada filolog  inggris Robert Nares, Etimologi hoax berasal dari kata latin hocus yang berarti to cheat atau menipu. Sementara, kata hocus ditemukan pada mantra penyihir abad pertengahan, hocus focus . Nares mengungkap itu dengan merujuk buku risalah dari Thomas Ady pada 1656 tentang  sifat penyihir dan sihir. Para pesulap  kemudian hari menggunakan frasa yang sama ketika memulai trik dalam pertunjukkan. fungsinya tak lain untuk menyajikan hiburan lewat tipuan.

 

Hoaks, Kabar Palsu dan Disinformasi

Kabar palsu (fake news ) mulai ramai dibicarakan setelah pemilihan presiden AS pada 2016. Saat itu, kabar palsu yang muncul di facebook lebih banyak menarik perhatian orang daripada berita media arus utama dan berdampak dalam arus politik pemilihan. Informasi dari kabar palsu yang beredar itulah yang lantas di fabrikasi secara sistematis menjadi disinformasi. Informasi tipe ini memang sengaja direkayasa sejak awal dan disebarkan secara sistematis untuk tujuan tertentu.  Jika merujuk pada nares, konteks informasinya memang bohong, tapi dalam maksud kelakar. Sementara, kabar palsu dalam konteks disinformasi sifatnya bukan hanya sengaja tapi juga merugikan orang atau kelompok tertentu. Dan perlu diketahui juga pelaku penyebar disinformasi itu cukup luas, mulai dari penipu (scammer) selebritas bahkan politisi. Sebuah studi dari oxford internet institute (2019) menemukan fakta bahwa beberapa pemerintahan di dunia  turut punya andil dan menjadi pemain utama dalam penyebaran disinformasi global.

Tips untuk terhindar dari disinformasi:

  1. Periksa sumbernya
  2. periksa penulis dan latar belakangnya
  3. periksa isinya, Apakah berimbang atau hanya dari satu sisi saja.
  4. Periksa gambar dari video
  5. Lihat bagaimana cerita dari informasi itu mempengaruhi perasaan.
  6. Jika negatif, perlu berhati-hati dan cek kembali
  7. Laporkan dan pertimbangan untuk tidak membaginya lagi

 

Bagi penyebar hoax, dapat diancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE (UU ITE) yang menyatakan “Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik yang Dapat di hukum pidana berdasarkan Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *